Pages

Monday, September 7, 2020

Sebelum Ide Difilmkan



FILM tidak hanya tentang bagaimana merekam sebuah adegan. Tanpa persiapan yang matang, rekaman apapun tidak akan bermakna. Artikel ini mencoba menjelaskan apa saja yang sebaiknya dilakukan sebelum gambar direkam, yaitu tahapan untuk dapat menuangkan ide dalam bentuk sinopsis. Selain dapat menjadi dasar bagi penulisan skenario, sinopsis juga digunakan untuk menarik minat produser untuk membiayai film yang akan dibuat.

PRA-PRODUKSI. Tahapan sebelum ide cerita difilmkan biasa disebut sebagai fase pra-produksi. Di tahap ini ide dimatangkan dengan riset dan pengembangannya untuk kemudian ditulisakan menjadi sebuah naskah (skenario). Pastikan ada kebaruan dari setiap ide cerita, baik itu film fiksi maupun non-fiksi. Baru dalam arti belum pernah ada sebelumnya (tokoh atau topik yang ditawarkan). Dapat pula baru dalam arti film menawarkan cara pandang cerita yang belum pernah diangkat sebelumnya. Baru berarti unik dan khas. Di tahap ini jangan pikirkan dulu genre film. Yang utama, tetapkan saja dulu apakah cerita bersifat fiksi atau non-fiksi.

TOKOH. Untuk mendukung ide utama tersebut, pembuat film membutuhkan tokoh yang dapat menyampaikan film statement secara audio-visual (lihat Film: Sebuah Definisi). Di fase pra-produksi pastikan tokoh yang diciptakan (fiksi) atau dipilih (non-fiksi) memiliki karakter yang menonjol yang dapat membedakannya dengan tokoh lain di luar film. Yaitu karakter yang hanya bisa dilekatkan pada tokoh tersebut dan tidak dapat dengan mudah dikenakan kepada orang lain. Karakter tersebut tidak hanya terlihat secara kasat mata seperti kekhasan wajah, bentuk tubuh, perilaku, kebiasaan, gaya berpakaian dll. Tetapi termasuk karakter tokoh yang tidak terlihat namun dapat dirasakan seperti kepribadian dan emosinya.

Sedikitnya ada dua peran yang harus ada dalam film yang akan dimainkan oleh tokoh berkarakter tadi. Pertama, peran utama (biasanya protagonis). Kedua, peran yang membantu sosok protagonis. Itu contoh untuk sebuah film pendek yang berdurasi kurang dari 15 menit. Di atas durasi ini, sebaiknya ada peran lain (biasanya antagoris). Ini penting untuk memudahkan membangun konflik dan menciptakan momen-momen dramatis dalam cerita.

CERITA. Setelah ide dan tokoh telah ada, kemudian disiapkanlah ceritanya. Tetapi kadang kala cerita dapat dibangun dari karakter tokoh yang sudah diciptakan atau ditemukan. Tetapi tidak jarang pula cerita yang menjadi panduan kita untuk menciptakan atau menemukan tokoh dengan karakter yang pas untuk mendukung ide cerita. Apapun itu, dalam cerita yang akan dibangun harus memiliki unsur konflik juga drama. Konflik bisa berarti pertentangan antara harapan dan kenyatanaan, dilema, atau hambatan yang dihadapi si tokoh. Adapun drama adalah aspek yang dapat mengguah keterlibatan emosi penonton. Entah itu sedih, gembira, atau perasaan lain yang dapat berhubungan langsung dengan sisi manusiawi penonton. Unsur konflik dan drama ini diperlukan agar film tidak monoton dan membosankan. Dalam cerita fiksi, konflik dan drama itu diciptakan. Sementara dalam cerita non-fiksi, dua hal tadi harus dapat ditemukan. Itulah gunanya riset pada fase pra-produksi.

RISET. Riset untuk film fiksi diarahakan untuk mengasah imajinaasi agar terlihat nyata dan 'masuk akal' untuk diceritakan. Film bertema fiksi ilmiah atau fantasi misalnya, membangun argumentasi cerita yang sedemikian rupa sehingga penonton dapat menerima logika cerita. Adapun riset untuk film non-fiksi ditujukan untuk menemukan data dan hasil observasi yang menguatkan film statement (ide inti yang ingin disampaikan) karena pada dasarnya film non-fiksi dibangun di atas logika fakta.

Riset bisa dilakukan dengan tiga cara. Pertama, berdialog dengan sejumlah orang yang mungkin tertarik dengan tema cerita. Mereka dapat memberi masukan, komentar, atau mungkin koreksi atas ide cerita. Kedua, riset dilakukan melalui pengamatan (observasi) di sekitar kita. Meski cara ini lebih sering dilakukan untuk film non-fiksi, tetapi tidak ada salahnya jika digunakan juga untuk film fiksi agar imajinasi yang dibangun dalam cerita menjadi seperti nyata. Ketiga, riset dokumentasi dengan membaca, mempelajari dokumen atau sumber-sumber sekunder yang terkait dengan ide cerita.

SINOPSIS. Setelah semua rampung, sinopsis film sudah dapat dibuat. Sinopsis adalah kerangka dasar skenario yang memuat deskripsi ringkas pengembangan ide cerita. Ada dua bagian di dalamnya. Bagian pertama mendeskripsikan secara ringkas isi cerita: mulai dari latar, awal, konflik dan drama, hingga akhir cerita. Bagian kedua mendeskripsikan karakter para tokoh yang ada dalam cerita. Makin jelas sebuah sinopsis menggambarkan inti dari pembengangan ide cerita, makin mudah untuk dikembangkan menjadi skenario. Pengembangan lebih lanjut ini tentu dengan mempertimbangkan banyak hal, mulai dari ketersediaan dana hingga hal-hal pendukung lain yang memungkinkan ide tersebut untuk di-audio-visual-kan. @aswan

No comments:

Post a Comment