Pages

Saturday, February 26, 2011

Teori Pelanggaran Harapan: Asumsi dasar

M. Aswan Zanynu
Peminat Isu Komunikasi


SETIAP perilaku komunikasi melibatkan harapan. Seorang berbicara pada orang lain mengharapkan tanggapan tertentu dari orang tersebut. Program acara tertentu dibuat oleh tv atau radio karena mengharapkan tanggapan tertentu dari audiens mereka. Kampanye, debat, atau apa saja yang dengan sengaja dikomunikasikan, melibatkan harapan-harapan dari mereka yang terlibat. Tidak jarang harapan yang jadi acuan mereka yang berkomunikasi tidak terwujud. Hadirnya harapan dalam peristiwa komunikasi dapat dijelaskan dengan teori Pelanggaran Harapan.

Menurut Richard West dan Lynn H. Turner (2008), Teori Pelanggaran Harapan (Expectancy Violation Theory – EVT) berakar pada bagaimana pesan-pesan ditampilkan pada orang lain dan jenis-jenis perilaku yang dipilih orang lain dalam sebuah percakapan. Selain itu, terdapat tiga asumsi yang menuntun teori ini. Pertama, harapan mendorong terjadinya interaksi antarmanusia. Kedua, harapan terhadap perilaku manusia dipelajari. Ketiga, orang membuat prediksi mengenai perilaku nonverbal. Pelanggaran atas harapan-harapan tadi menyebabkan perasaan tidak nyaman (atau lebih) dalam diri mereka yang terlibat dalam sebuah komunikasi.

Harapan (expectancy) dapat diartikan sebagai pemikiran dan perilaku yang diantisipasi dan disetujui dalam percakapan dengan orang lain. Dalam tulisan-tulisan awalnya mengenai EVT, sang pencetus teori ini Judee Burgoon (1978) menyatakan bahwa orang tidak memandang perilaku orang lain sebagai sesuatu yang acak. Sebaliknya, mereka memiliki berbagai harapan pengenai bagaimana seharusnya orang berpikir dan berperilaku.

Manusia belajar tentang harapan dari norma-norma sosial, stereotipe, rumor, dan sifat idiosinkratik (karakteristik) dari komunikator. Demikian hasil temuan Levine dan rekannya (2000). Meski demikinan, menurut Burgoon dan Hale (1988), harapan merupakan buah dari tiga faktor. Pertama, faktor individual komunikator (jenis kelamin, kepribadian, usia, penampilan, reputasi). Kedua, faktor relasional (sejarah hubungan yang melatarbelakangi interaksi, perbedaan status, tingkat ketertarikan dan rasa suka. Ketiga, faktor konteks (formalitas/informalitas, fungsi tugas/sosial, batasan lingkungan, norma-norma budaya.

Selain prediksi atas perilaku verbal, teori ini menekankan pada prediksi yang dilakukan orang saat berkomunikasi melalui perilaku nonverbal. Menurut teori ini, selain pesan nonverbal yang selama ini dikenal (ekspresi, gerak tubuh atau anggota badan lainnya), cara manusia mengatur jarak dengan lawan bicaranya (territoriality) juga sebagai bentuk pesan nonverbal. Jarak intim (0 – 46 cm) untuk anak atau pasangan hidup. Jarak personal (46 cm – 1,2 m) untuk teman atau keluarga. Jarak sosial (1,2 – 3,6 m) yang sifatnya semi-formal seperti hubungan dengan rekan kerja. Jarak publik (di atas 3,7 m) yang bentuk formal seperti diskusi kelas atau rapat.***

No comments:

Post a Comment